Budaya Daerah Makin Berkembang

REOG GONDOREO adalah seni tari yang lahir dari kreativitas seorang seniman asal Jawa Tengah Tepatnya di Desa Kropak Kecamatan Wirosari Kabupaten Grobogan.Awalnya Reog Gondoreo sejak tahun 1945 sejak kemerdakaan RI mulai di pentaskan melalui sajian yang menandakan rasa syukur (Gembira) kesenangan dan kemerdekaan yang mulanya terlilit dari penindasan bangsa lain.Sehingga Kesenian Reog Gondoreo ini sudah merupakan adat tradisi Budaya yang turun temurun pada akhirnya dapat digunakan untuk berbagai kegiatan seperti tanggapan mantu ,khitan ,ungkapan rasa syukur atau sedekah bumi lainya.
Jaman dahulu Reog Godoreo ditarikan oleh seorang Gadis yang cantik bernama Sumini asal Kecamatan Brati Kabupaten Grobogan ,yang kemudian menikah dengan perjaka tampan yang dalam menggandrungi kesenian ini.Rasa cintanya terhadap Penari Reog Gondoreo maka ki sastro sering terlibat waranggono (Penari Laki – Laki ) Sastro Miharjo mulanya sesepuh Ds Jangkungharjo.Hingga akhirnya ketenaran dalam Dunia tari Gondoreo sampai dikenal seantero Jagad Raya.
Pada Tahun 1950 Budaya Waranggono lambat laun berkembang ke seluruh penjuru perbatasan sukolilo ,pati ,kudus ,jepara ,bahkan sampai yogyakarta.Suami Istri Sumini dengan Sastro Mihardjo kemudian memiliki keturunan Soedardjo seorang figure berbakat dalam hal menari pada masa mudanya ,sehingga seringkali berpentas menjadi seorang Gatot Koco yang di godog kawah Condrodimuko.Soedarjo inilah yang meneruskan cita cita keluarganya.
Bakatnya berkembang cukup pesat sehingga dalam acara acara penting Sodardjo sering digunakan sebagai waranggono Reog Gondoreo yang akhirnya sampai saat ini dikenal dengan Seni Tradisional Tayub Grobogan (Ledhek –Jawa Red ).Lambat laun Kesenian Tayub sangat disukai oleh warga Kropak hingga disanalah mengalir bakat seni budaya ledhek tumbuh dan berkembang pesat.Desa yang subur dengan areal sawah yang luas sebagian besar penduduk mengandalkan ternak dan menggarap sawah Disana lahir seni tayub pertama yang dikenal se antero jagat raya yang bernama Lasmi ,masa mudanya Lasmi sangat cantik dan berbody menegangkan ,goyanganya bisa menghebohkan bagi pria yang melihatnya ,Menurut Mbah Ngatiman .”Wah Lasmi dulu goyanganya meliuk liuk seperti perahu terkena ombak samudra siapa yang melihat wajahnya ,ketika menatap pasti akan tergoda dahulu ledhek bisa menggunakan sugesti yang namanya susuk inten ,berlian atau emas ,namun tidak semua penari ledhek menggunakan susuk tersebut,sejarah kuno mengatakan kalau ledhek menggunakan susuk tersebut agar penggemarnya senang dan memilihnya untuk menari dalam acara acara penting.Biasanya dahulu ledhek kalau nggak pakai susuk itu jarang laku dan biasanya susuk tersebut ditempelkan di alis ,kening mata ,bibir ,pipi ,paha atau dimanapun anggota tubuh yang dilihat bisa menarik perhatian orang.”kata Mbah Ngatiman
Sebelum bernama Ledhek Awalnya disebut musik Gondoreo yang berjalan seperti pengamen di jalan sambil membawa alat alat gong gamelan dan siter.Bahkan Penarinya juga dihiasi dengan make up dan berbusana kebaya dengan menyanyi gamelan adapt jawa seperti ( lir ilir lir ilir..kembange wong sumilir ,tak ijo royo royo ) Gondoreo ditarikan Ia terinspirasi pada kesenian rakyat ketoprak yang salah satunya diambil dari cerita wayangkulit kemudian berkolaborasi menjadikannya mengetahui dan mengenal betul perbendaharan pola-pola gerak tari tradisi yang ada pada Kleningan atau Bajidoran atau samproh yang berasal dari timur tengah ,Sehingga ia dapat mengembangkan tarian atau kesenian yang kini di kenal dengan nama Reog Gondoreo
Karya Reog Gondoreo pertama yang mulai dikenal oleh masyarakat adalah tari klasik adat Grobogan yang merupakan jenis tari putri dan tari berpasangan (putra dan putri). Awal kemunculan tarian tersebut semula dianggap sebagai gerakan yang erotis dan vulgar,karena menggunakan Make Up yang berlebihan dengan menampakkan senyuman menggoda ,namun semakin lama tari ini semakin justru populer di Grobogan.
Dari tari Reog Gondoreo ini mulai lahir beberapa penari Tayub yang handal seperti Suliyem Cilik ,Suliyem Gede ,Tinah Lasmi ,Sri Indarti ,Sumini ,Sutini dan masih banyak yang lainya .Kehadiran tari Reog Gondoreo memberikan kontribusi yang cukup besar terhadap para pencinta seni tari untuk lebih aktif lagi menggali jenis tarian rakyat yang sebelumnya kurang di perhatikan. Dengan munculnya tari Reog Gondoreo ini mulai banyak yang membuat kursus-kursus tari dan sanggar seni tari di Kecamatan Wirosari, sehingga banyak dimanfaatkan oleh para pengusaha untuk pemikat tamu undangan.
Di Grobogan Jawa Tengah gaya “Kijing Miring” memiliki ciri khas yakni keceriaan, erotis, humoris, semangat, spontanitas, dan kesederhanaan. Hal itu tercermin dalam pola penyajian tari pada pertunjukannya, ada yang diberi pola (Muter Miring) seperti pada seni Reog Gondoreo yang ada di Kropak, Tari Reog Gondoreo pada saat ini bisa disebut sebagai salah satu tarian khas Jawa Tengah,yang lebih dikenal dengan Tayub Grobogan.Semakin maju dan modern maka Reog Gondoreo terlihat pada acara-acara penting seperti kedatangan tamu-tamu dari partai seperti deklarasi seminar ,loka kaya, selalu di sambut dengan pertunjukkan tari Tayub. Tari Tayub ini banyak mempengaruhi pada kesenian-kesenian lainnya yang ada di Jawa Tengah baik pada seni pertunjukkan wayang kulit Ketoprak dan bayak yang lainnya yang bahkan telah dikolaborasikan dengan musik Dangdut Modern seperti caping gunung ,Godrel ,jenang gulo ,tak lelo legung yang dibawakan secara berkelompok atau berpasangan, ditampilkan setelah acara selesai sambutan dan dihibur oleh tayub Gondoreo dan biasanya penari menghadap ke arah tamu (pelinggih) mengenakan pakaian adapt jawa kebaya yang akan beurutan kemudian membelakangi kembali menghadap pada penonton ,begitu pula waranggononya ,bergantian menghadap kemudian dilanjutkan penyerahan sampur (Selendang Jawa - Red).
Bagi tamu dan penonton yang ingin menari.Biasanya masing-masing penari uang sebagai saweran (diberi uang dengan rasa ungkapan puas dengan jogetan dan goyanganya) Selain tari Pendet, biasanya Reog Gondoreo dapat di pentaskan untuk kelengkapan pelaksanaan kegiatan ritual atau upacara adapt jawa seperti pada bulan bulan tertentu sedekah bumi di Sendang coyo ,sendang Keongan ,Sendang Mudal ,Dll.(Gus Murgan)

Tidak ada komentar:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

GEMA BERSEMI KABUPATEN GROBOGAN

H Suryati Icek Baskoro

H Suryati Icek Baskoro
Hadir Dlam Penyerahan Remisi

bupati grobogan

bupati grobogan
H Bambang Pudjiono SH

Hak Hak Narapidana

Saat seorang narapidana menjalani vonis yang dijatuhkan oleh pengadilan, maka hak-haknya sebagai warga negara akan dibatasi. Sesuai Pasal ayat 7 UU.No.12 Tahun 1995, narapidana adalah terpidana yang menjalani pidana hilang kemerdekaan di Lembaga Pemasyarakatan. Walaupun terpidana kehilangan kemerdekaannya, tapi ada hak-hak narapidana yang tetap dilindungi dalam sistem pemasyarakatan Indonesia.

Hak-hak tersebut adalah :

Hak untuk melakukan ibadah

Hak untuk mendapat perawatan rohani dan jasmani

Hak pendidikan

Hak Pelayanan Kesehatan dan makanan yang layak

Hak menyampaikan keluhan

Hak memperoleh informasi

Hak mendapatkan upah atas pekerjaannya

Hak menerima kunjungan

Hak mendapatkan remisi

Hak mendapatkan kesempatan berasimilasi termasuk mengunjungi keluarga

Hak untuk mendapatkan pembebasan bersyarat

Hak mendapatkan cuti menjelang bebas,

serta hak-hak lain sesuai dengan peraturan yang berlaku

Perlu diingat bahwa hak-hak tersebut tidak diperoleh secara otomatis tetapi dengan syarat atau kriteria tertentu. Sama halnya dengan pemberian remisi.